Paperboard Jadi Andalan Industri F&B di Tren Kemasan Ramah Lingkungan

Industri makanan dan minuman (F&B) semakin gencar beralih ke kemasan ramah lingkungan seiring meningkatnya kesadaran konsumen terhadap isu keberlanjutan. Salah satu material yang kini banyak digunakan adalah paperboard, yang dinilai mampu menjadi alternatif kemasan yang lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan berbasis plastik sekali pakai.

Paperboard memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya diminati pelaku industri F&B. Material ini relatif mudah didaur ulang, berasal dari sumber yang dapat diperbarui, serta memiliki fleksibilitas tinggi untuk berbagai kebutuhan kemasan. Selain itu, perkembangan teknologi memungkinkan paperboard memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap kelembapan dan kontaminasi, sehingga tetap mampu menjaga kualitas produk.

Tren penggunaan paperboard juga didorong oleh perubahan preferensi konsumen. Masyarakat kini semakin memperhatikan dampak lingkungan dari produk yang mereka konsumsi, termasuk jenis kemasan yang digunakan. Banyak merek makanan dan minuman mulai menjadikan kemasan berkelanjutan sebagai bagian dari strategi bisnis sekaligus upaya membangun citra positif di mata pelanggan.

Pelaku industri menilai penggunaan paperboard tidak hanya mendukung target keberlanjutan, tetapi juga membuka peluang inovasi desain kemasan yang lebih menarik. Dengan permintaan pasar yang terus meningkat, material ini diperkirakan akan menjadi salah satu pilihan utama dalam transformasi industri kemasan nasional menuju praktik bisnis yang lebih ramah lingkungan.

Similar Posts

  • Ekonom perkirakan inflasi bulanan Juli melambat ke 0,03 persen

    Sejumlah ekonom memperkirakan inflasi Indonesia secara bulanan pada Juli 2026 akan melambat menjadi sekitar 0,03 persen. Proyeksi tersebut menunjukkan tekanan harga diperkirakan lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Pada Juni 2026, tekanan inflasi terutama berasal dari komoditas pangan dan kenaikan harga bahan bakar. Pemerintah sebelumnya memperkirakan tekanan tersebut dapat berkurang setelah harga sejumlah komoditas mulai mereda….

  • Wamenperin Sebut Aturan Insentif Kendaraan Listrik Rilis Bulan Depan

    Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) menyebut regulasi terkait insentif kendaraan listrik akan diterbitkan pada bulan depan. Kebijakan tersebut saat ini masih dalam tahap finalisasi oleh pemerintah bersama kementerian dan lembaga terkait. Pemerintah berharap aturan baru ini dapat mempercepat adopsi kendaraan listrik di Indonesia. Sebelumnya, pemerintah menargetkan insentif kendaraan listrik mulai berlaku pada Juni 2026. Namun, implementasinya…

  • Harga Emas Antam Naik Cuma Rp 3.000

    Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali mengalami kenaikan tipis pada perdagangan Rabu, 22 Juli 2026. Berdasarkan data terbaru dari laman Logam Mulia, harga emas Antam naik Rp3.000 per gram menjadi Rp2.635.000 dari sebelumnya Rp2.632.000 per gram. Sementara itu, harga buyback atau pembelian kembali juga meningkat Rp3.000 menjadi Rp2.386.000 per gram. Kenaikan ini…

  • BPOM Sebut 39% Sarana Produksi AMDK Tak Memenuhi Syarat

    Badan Pengawas Obat dan Makanan mengungkapkan hasil pengawasan terhadap sarana produksi air minum dalam kemasan.Sebanyak 39 persen fasilitas produksi diketahui belum memenuhi standar yang ditetapkan.Temuan ini berasal dari hasil inspeksi di berbagai daerah. BPOM menilai masih terdapat pelanggaran pada aspek higiene dan sanitasi produksi.Beberapa fasilitas disebut belum sepenuhnya memenuhi standar kelayakan operasional.Kondisi ini berpotensi memengaruhi…

  • Israel Serang Lebanon, Bitcoin Langsung Tertekan

    Harga Bitcoin kembali mengalami tekanan setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Sentimen pasar memburuk menyusul serangan militer Israel ke sejumlah wilayah di Lebanon dalam beberapa hari terakhir. Aset kripto terbesar di dunia tersebut sempat turun lebih dari 2 persen. Bitcoin bahkan bergerak mendekati level US$63.000 setelah kabar serangan kembali mencuat. Analis menilai konflik geopolitik…

  • Harga Pangan Turun, Sumsel Catat Deflasi 0,24% pada Juli 2026

    Provinsi Sumatera Selatan mencatat deflasi sebesar 0,24 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Juli 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut penurunan harga sejumlah komoditas pangan menjadi faktor utama yang mendorong deflasi tersebut. Kondisi ini menunjukkan tekanan harga kebutuhan pokok mulai mereda setelah sebelumnya mengalami kenaikan pada beberapa bulan terakhir. Meski terjadi deflasi bulanan, inflasi tahunan Sumatera…