BPOM Sebut 39% Sarana Produksi AMDK Tak Memenuhi Syarat

Badan Pengawas Obat dan Makanan mengungkapkan hasil pengawasan terhadap sarana produksi air minum dalam kemasan.
Sebanyak 39 persen fasilitas produksi diketahui belum memenuhi standar yang ditetapkan.
Temuan ini berasal dari hasil inspeksi di berbagai daerah.

BPOM menilai masih terdapat pelanggaran pada aspek higiene dan sanitasi produksi.
Beberapa fasilitas disebut belum sepenuhnya memenuhi standar kelayakan operasional.
Kondisi ini berpotensi memengaruhi kualitas produk yang dihasilkan.

Pengawasan dilakukan secara berkala untuk memastikan keamanan pangan tetap terjaga.
BPOM juga melakukan evaluasi terhadap kepatuhan pelaku industri AMDK.
Langkah ini bertujuan melindungi konsumen dari risiko produk tidak sesuai standar.

Pihak industri diminta segera melakukan perbaikan terhadap temuan tersebut.
Peningkatan standar produksi menjadi syarat utama agar dapat tetap beroperasi.
BPOM juga menegaskan akan memberikan sanksi bagi pelanggaran berat.

Selain itu, edukasi kepada pelaku usaha terus ditingkatkan oleh pemerintah.
Tujuannya agar seluruh produsen memahami standar keamanan pangan yang berlaku.
Hal ini diharapkan dapat memperbaiki kualitas industri AMDK secara nasional.

Dengan temuan ini, BPOM menekankan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi.
Keamanan dan kesehatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama pengawasan.

Similar Posts

  • U by Prodia Gandeng BCA Digital Hadirkan Fitur Pembayaran U-aang

    Platform layanan kesehatan digital U by Prodia menjalin kerja sama dengan BCA Digital untuk menghadirkan fitur pembayaran terbaru bernama U-aang. Inovasi ini dirancang untuk memudahkan pengguna dalam melakukan transaksi berbagai layanan kesehatan secara lebih cepat, praktis, dan terintegrasi melalui aplikasi. Melalui kolaborasi tersebut, pengguna U by Prodia dapat menikmati pengalaman pembayaran digital yang lebih efisien…

  • Ekonom perkirakan inflasi bulanan Juli melambat ke 0,03 persen

    Sejumlah ekonom memperkirakan inflasi Indonesia secara bulanan pada Juli 2026 akan melambat menjadi sekitar 0,03 persen. Proyeksi tersebut menunjukkan tekanan harga diperkirakan lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Pada Juni 2026, tekanan inflasi terutama berasal dari komoditas pangan dan kenaikan harga bahan bakar. Pemerintah sebelumnya memperkirakan tekanan tersebut dapat berkurang setelah harga sejumlah komoditas mulai mereda….

  • Puncak Musim Panen Kopi Berakhir

    Puncak musim panen kopi di sejumlah daerah penghasil utama Indonesia mulai berakhir pada akhir Juli 2026. Memasuki penghujung panen, aktivitas petani beralih dari memetik buah menjadi merawat tanaman. Hasil panen yang diperoleh pada periode akhir memang lebih sedikit dibanding awal musim. Namun, pendapatan tersebut tetap membantu memenuhi kebutuhan keluarga dan biaya perawatan kebun. Di Kabupaten…

  • Harga Emas Antam Tak Bergerak, Masih Dijual Semahal Ini

    Harga emas batangan Antam tercatat tidak mengalami perubahan pada perdagangan hari ini. Meski stagnan, harga logam mulia tersebut masih berada di level yang relatif tinggi dibandingkan rata-rata harga dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini membuat emas tetap menjadi salah satu instrumen investasi yang banyak diminati masyarakat. Stabilnya harga emas dipengaruhi berbagai faktor global. Di antaranya…

  • Kisi-Kisi Emiten Telko ISAT, TLKM, EXCL dari Pertarungan Monetisasi 5G

    Persaingan industri telekomunikasi Indonesia memasuki babak baru seiring semakin masifnya pengembangan jaringan 5G. Tiga emiten telekomunikasi besar, yakni PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), dan PT XL Smart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), kini menghadapi tantangan yang sama: bagaimana mengubah investasi besar pada infrastruktur 5G menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan….

  • Malik Nuh Jaidi Dorong Industri Tembakau Berkualitas Lewat Kemitraan Strategis

    Malik Nuh Jaidi mendorong penguatan industri tembakau berkualitas melalui inovasi dan kemitraan strategis. Langkah tersebut dijalankan melalui PT Jasmira Sultan Tobacco yang dipimpinnya sebagai CEO. Perusahaan menghadapi perubahan preferensi konsumen, persaingan global, serta tuntutan peningkatan kualitas produk. Malik menilai pertumbuhan perusahaan tidak hanya bergantung pada peningkatan bisnis. Tata kelola profesional dan pengembangan sumber daya manusia…