Paperboard Jadi Andalan Industri F&B di Tren Kemasan Ramah Lingkungan

Industri makanan dan minuman (F&B) semakin gencar beralih ke kemasan ramah lingkungan seiring meningkatnya kesadaran konsumen terhadap isu keberlanjutan. Salah satu material yang kini banyak digunakan adalah paperboard, yang dinilai mampu menjadi alternatif kemasan yang lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan berbasis plastik sekali pakai.

Paperboard memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya diminati pelaku industri F&B. Material ini relatif mudah didaur ulang, berasal dari sumber yang dapat diperbarui, serta memiliki fleksibilitas tinggi untuk berbagai kebutuhan kemasan. Selain itu, perkembangan teknologi memungkinkan paperboard memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap kelembapan dan kontaminasi, sehingga tetap mampu menjaga kualitas produk.

Tren penggunaan paperboard juga didorong oleh perubahan preferensi konsumen. Masyarakat kini semakin memperhatikan dampak lingkungan dari produk yang mereka konsumsi, termasuk jenis kemasan yang digunakan. Banyak merek makanan dan minuman mulai menjadikan kemasan berkelanjutan sebagai bagian dari strategi bisnis sekaligus upaya membangun citra positif di mata pelanggan.

Pelaku industri menilai penggunaan paperboard tidak hanya mendukung target keberlanjutan, tetapi juga membuka peluang inovasi desain kemasan yang lebih menarik. Dengan permintaan pasar yang terus meningkat, material ini diperkirakan akan menjadi salah satu pilihan utama dalam transformasi industri kemasan nasional menuju praktik bisnis yang lebih ramah lingkungan.

Similar Posts

  • RANS Tawarkan Harga Saham Rp 135-Rp 170, Mahal atau Murah?

    PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS) resmi memulai masa penawaran awal atau book building dengan kisaran harga Rp135 hingga Rp170 per saham. Perusahaan milik Raffi Ahmad dan Nagita Slavina itu menawarkan 2,525 miliar saham baru atau setara 20,02 persen modal setelah IPO. Dengan rentang harga tersebut, RANS berpotensi menghimpun dana segar sekitar Rp340,87 miliar hingga…

  • Manuver Putar Balik Bank Sentral dan Rencana Bisnis DNAR hingga BBCA

    Perubahan arah kebijakan sejumlah bank sentral global menjadi perhatian utama pelaku pasar pada pertengahan 2026. Setelah sebelumnya mempertahankan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi, beberapa bank sentral mulai memberikan sinyal pelonggaran kebijakan seiring meredanya tekanan harga dan perlambatan ekonomi global. Kondisi tersebut turut memengaruhi strategi bisnis perbankan di Indonesia dalam menyusun target pertumbuhan hingga akhir…

  • BI Rate Naik Lagi, Bank BUMN Diminta Nggak Buru-buru Naikkan Bunga Kredit

    Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur pada 17–18 Juni 2026. Kenaikan dilakukan untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi di tengah ketidakpastian ekonomi global. Meski BI Rate kembali naik, bank-bank milik negara atau Himpunan Bank Milik…

  • Harga Telur & Ayam Turun Saat MBG Disetop Sementara, Hotel-Kafe Diminta Serap

    telur ayam dan daging ayam mengalami penurunan harga di sejumlah pasar setelah program MBG dihentikan sementara.Kondisi ini terjadi karena permintaan dari sektor tertentu mengalami penyesuaian dalam waktu singkat.Perubahan tersebut langsung berdampak pada pergerakan harga di tingkat pedagang. Para pelaku usaha mencatat adanya penurunan serapan dari distribusi sebelumnya.Akibatnya, stok telur dan ayam di beberapa daerah mengalami…

  • Kebut regenerasi petani, Banten galakkan pertanian modern

    Pemerintah Provinsi Banten terus mendorong regenerasi petani melalui pengembangan pertanian modern. Langkah ini dilakukan untuk menarik minat generasi muda agar terjun ke sektor pertanian yang selama ini identik dengan pekerjaan konvensional dan memiliki tingkat regenerasi yang relatif rendah. Dinas Pertanian Provinsi Banten menilai pemanfaatan teknologi menjadi kunci dalam meningkatkan daya tarik sektor pertanian. Berbagai inovasi…

  • Dana Asing Cabut Rp 3,19 Triliun Saat IHSG Naik Tipis

    Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat tipis di tengah tekanan aksi jual investor asing. Fenomena ini menunjukkan bahwa penguatan indeks belum sepenuhnya didukung oleh arus modal luar negeri. Data perdagangan menunjukkan investor asing membukukan jual bersih (net sell) sebesar Rp3,19 triliun. Meski demikian, IHSG tetap mampu bertahan di zona hijau berkat dukungan investor…