PT BKA salurkan bantuan kesehatan dan pendidikan di Motui Konut
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat menegaskan bahwa sekolah memiliki peran penting dalam menghadapi meningkatnya apatisme politik di kalangan Generasi Z. Karena itu, SMA dan SMK Strada mendorong siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis agar mampu memahami berbagai isu sosial dan politik secara objektif. Langkah tersebut diharapkan membentuk generasi muda yang aktif, peduli, dan bertanggung jawab sebagai warga negara.
Pendidikan politik di sekolah tidak diarahkan untuk memengaruhi pilihan politik siswa. Sebaliknya, pembelajaran difokuskan pada kemampuan menganalisis informasi, menghargai perbedaan pendapat, dan memahami nilai-nilai demokrasi. Dengan bekal tersebut, siswa diharapkan mampu mengambil keputusan berdasarkan fakta, bukan sekadar mengikuti opini yang beredar di media sosial.
Melalui berbagai kegiatan pembelajaran, guru mengajak siswa berdiskusi mengenai persoalan kebangsaan, hak asasi manusia, hingga perkembangan demokrasi. Pendekatan ini memberi ruang bagi peserta didik untuk menyampaikan pandangan secara terbuka sekaligus belajar menghormati pendapat orang lain. Budaya dialog dinilai menjadi salah satu cara efektif membangun kesadaran politik sejak dini.
Sekolah juga menilai kemampuan berpikir kritis menjadi bekal penting di era digital. Generasi Z memiliki akses luas terhadap informasi, tetapi juga berhadapan dengan hoaks, disinformasi, dan polarisasi. Oleh sebab itu, siswa perlu dibiasakan memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Selain pembelajaran di kelas, SMA dan SMK Strada mendorong siswa aktif melalui organisasi, debat, hingga proyek kolaboratif. Berbagai kegiatan tersebut melatih kepemimpinan, komunikasi, serta kemampuan menyelesaikan masalah. Pengalaman itu diharapkan membentuk karakter yang lebih peduli terhadap lingkungan dan kehidupan bermasyarakat.
Melalui penguatan literasi politik dan budaya berpikir kritis, sekolah berharap siswa tidak tumbuh menjadi generasi yang apatis. Sebaliknya, mereka diharapkan menjadi warga negara yang aktif, mampu berpikir rasional, serta berkontribusi menjaga kualitas demokrasi Indonesia di masa depan.
