Makna Lukisan Punakawan Butet Kartaredjasa yang Dikasih pada Paus Leo XIV
Seniman dan budayawan Butet Kartaredjasa menarik perhatian publik setelah menyerahkan lukisan bertema Punakawan kepada Paus Leo XIV di Vatikan. Karya tersebut bukan sekadar lukisan budaya Jawa biasa. Lukisan itu merupakan interpretasi unik dari kisah Jalan Salib yang dipadukan dengan filosofi tokoh-tokoh Punakawan.
Dalam karya tersebut, Butet menggunakan empat tokoh Punakawan, yakni Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Menurut Butet, Punakawan bukan hanya karakter pewayangan yang menghibur. Mereka juga menjadi simbol kebijaksanaan, kesederhanaan, dan penyampai pesan moral dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Butet melihat adanya kesamaan nilai antara filosofi Punakawan dan pesan kemanusiaan dalam Jalan Salib. Karena itu, ia menciptakan 14 stasi Jalan Salib dengan visualisasi tokoh Punakawan. Dalam interpretasinya, Semar digambarkan sebagai sosok yang mewakili karakter Yesus. Sementara tokoh lainnya memainkan berbagai peran dalam setiap adegan Jalan Salib.
Lukisan yang diberikan kepada Paus Leo XIV merupakan Stasi ke-9 dari rangkaian karya tersebut. Butet memilih stasi itu karena menampilkan keempat Punakawan secara lengkap dalam satu bingkai. Menurutnya, karya tersebut paling mewakili filosofi dan identitas budaya Jawa yang ingin diperkenalkan kepada dunia.
Makna utama lukisan tersebut adalah penyebaran nilai kebaikan melalui simbol yang dekat dengan masyarakat. Filosofi Jawa seperti “Ojo Dumeh” atau jangan sombong, serta “Eling Sangkan Paraning Dumadi” atau mengingat asal dan tujuan hidup, menjadi pesan moral yang melekat dalam karya tersebut. Nilai-nilai itu dianggap selaras dengan ajaran tentang kerendahan hati, kasih, dan kemanusiaan universal.
Saat menerima karya tersebut, Paus Leo XIV disebut menyambutnya dengan hangat. Butet menjelaskan bahwa lukisan itu merupakan perpaduan antara tradisi Kristiani dan budaya Jawa dari Indonesia. Paus kemudian mengapresiasi karya tersebut dan menyampaikan kesannya terhadap Indonesia. Momen tersebut menjadi simbol dialog budaya dan keberagaman yang mampu menjembatani perbedaan agama maupun bangsa.
