Kena PHK, Sebagian Buruh Tekstil Beralih Buka Bisnis Konveksi
Gelombang pemutusan hubungan kerja atau PHK di industri tekstil mendorong sebagian pekerja mencari sumber penghasilan baru. Salah satu pilihan yang banyak ditempuh adalah membuka usaha konveksi skala kecil dengan memanfaatkan keterampilan menjahit yang telah dimiliki. Langkah tersebut dinilai menjadi cara bertahan di tengah lesunya industri padat karya. Sejumlah mantan buruh memulai usaha dari rumah dengan modal pribadi maupun pinjaman keluarga. Mereka berharap bisnis konveksi mampu menjadi sumber pendapatan yang lebih stabil.
Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Jemmy Kartiwa Sastraatmadja, mengatakan banyak pekerja terdampak PHK memilih berwirausaha karena telah menguasai proses produksi garmen. Pengalaman bertahun-tahun di pabrik menjadi modal penting untuk menjalankan usaha sendiri. Produk yang dihasilkan beragam, mulai dari seragam sekolah, pakaian kasual, hingga pesanan dari pelaku usaha lokal. Namun, mereka masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan modal, pemasaran, dan persaingan harga. Dukungan pembiayaan serta pelatihan dinilai penting agar usaha tersebut dapat berkembang.
Kementerian Ketenagakerjaan menyatakan pemerintah terus berupaya memperluas kesempatan kerja bagi pekerja terdampak PHK. Selain melalui program pelatihan, pemerintah juga mendorong pengembangan kewirausahaan dan akses pembiayaan usaha mikro. Langkah tersebut diharapkan membantu mantan buruh memperoleh penghasilan baru tanpa harus menunggu lowongan kerja di sektor formal. Pemerintah juga terus berkoordinasi dengan pelaku industri untuk menjaga keberlangsungan sektor tekstil nasional. Upaya tersebut diharapkan mampu menekan angka PHK pada masa mendatang.
Pelaku usaha konveksi menilai permintaan pakaian lokal masih memiliki peluang untuk terus tumbuh. Tren penjualan melalui media sosial dan platform perdagangan elektronik membuka pasar yang lebih luas bagi usaha kecil. Meski demikian, mereka berharap industri tekstil nasional segera pulih agar lapangan kerja kembali meningkat. Dukungan pemerintah, perbankan, dan masyarakat dinilai menjadi faktor penting bagi keberlangsungan usaha para mantan buruh. Adaptasi melalui kewirausahaan menjadi bukti bahwa pekerja tekstil tetap mampu bertahan menghadapi perubahan kondisi ekonomi.
