Asing Jual Saham Rp1,03 Triliun saat IHSG Melonjak, Ini Daftar yang Dilepas

Investor asing mencatatkan aksi jual bersih Rp1,03 triliun pada perdagangan Jumat, 14 Agustus 2026. Aksi tersebut terjadi ketika IHSG justru melonjak 1,59 persen ke level 6.401,88. Data BEI melalui RTI Business menunjukkan tekanan jual asing berlangsung di tengah penguatan pasar.

Nilai transaksi saham pada Jumat mencapai Rp12,44 triliun dengan volume 32,45 miliar saham. Sebanyak 334 saham menguat, sedangkan 268 saham melemah dan 191 saham stagnan. Seluruh indeks sektoral BEI juga ditutup di zona hijau pada akhir perdagangan.

Saham Bakrie & Brothers (BNBR) menjadi yang paling banyak dilepas investor asing. Nilai net sell pada saham tersebut mencapai Rp393,13 miliar. Berikutnya terdapat Chandra Asri Pacific (TPIA) sebesar Rp265,45 miliar. Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) mencatat net sell Rp127,89 miliar.

Asing juga melepas saham Indosat (ISAT) senilai Rp85,26 miliar. Penjualan berikutnya terjadi pada Barito Renewables Energy (BREN) sebesar Rp61,89 miliar. Astra International (ASII) tercatat dilepas Rp53,16 miliar. Bank Central Asia (BBCA) juga mengalami net sell Rp44,15 miliar.

Di sisi lain, investor asing tetap membeli beberapa saham. Timah (TINS) menjadi saham dengan net buy terbesar mencapai Rp109,99 miliar. BBRI menyusul Rp93,8 miliar dan Antam (ANTM) sebesar Rp62,03 miliar. Pergerakan tersebut menunjukkan penguatan IHSG belum sepenuhnya mencerminkan masuknya dana asing.

Similar Posts

  • Said Abdullah Dorong Kebijakan Afirmatif Cukai Rokok Golongan III

    Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah mendorong pemerintah menerapkan kebijakan afirmatif bagi industri rokok Golongan III. Kebijakan tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan pelaku usaha kecil dan menengah di sektor hasil tembakau. Menurut Said Abdullah, struktur tarif cukai saat ini perlu dievaluasi. Ia menilai lapisan atau layer cukai yang terlalu sempit membatasi ruang gerak…

  • Manuver Putar Balik Bank Sentral dan Rencana Bisnis DNAR hingga BBCA

    Perubahan arah kebijakan sejumlah bank sentral global menjadi perhatian utama pelaku pasar pada pertengahan 2026. Setelah sebelumnya mempertahankan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi, beberapa bank sentral mulai memberikan sinyal pelonggaran kebijakan seiring meredanya tekanan harga dan perlambatan ekonomi global. Kondisi tersebut turut memengaruhi strategi bisnis perbankan di Indonesia dalam menyusun target pertumbuhan hingga akhir…

  • Arus Logistik Terus Bergerak, Neraca Perdagangan RI Surplus US$ 5,64 M

    Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan sebesar US$ 5,64 miliar pada periode terbaru.Capaian ini didorong oleh meningkatnya aktivitas ekspor yang terus bergerak di sektor logistik nasional.Kinerja tersebut menunjukkan daya saing perdagangan Indonesia di pasar global. Peningkatan surplus ini terjadi karena nilai ekspor lebih tinggi dibandingkan impor.Komoditas unggulan seperti hasil tambang, manufaktur, dan pertanian menjadi penopang utama.Permintaan…

  • Pengusaha Jelaskan Penyebab Daya Tawar Petani Sawit Rendah

    Kalangan pengusaha mengungkapkan rendahnya daya tawar petani sawit masih menjadi tantangan besar dalam industri kelapa sawit nasional. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi beberapa faktor, mulai dari skala usaha yang kecil hingga terbatasnya akses petani terhadap pabrik kelapa sawit. Akibatnya, banyak petani bergantung pada tengkulak atau perantara…

  • Pengusaha Ngeluh ke Menperin Aturan Pemda Bikin Industri Mandek

    Pelaku industri mengeluhkan berbagai aturan pemerintah daerah yang dinilai menghambat kegiatan usaha. Keluhan tersebut disampaikan langsung kepada Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam pertemuan bersama pelaku industri. Pengusaha berharap pemerintah pusat dapat menyelaraskan kebijakan daerah dengan regulasi nasional agar investasi dan produksi tidak terganggu. Menurut pelaku usaha, sejumlah peraturan daerah menimbulkan proses perizinan yang panjang…

  • Harga Pangan Turun, Sumsel Catat Deflasi 0,24% pada Juli 2026

    Provinsi Sumatera Selatan mencatat deflasi sebesar 0,24 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Juli 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut penurunan harga sejumlah komoditas pangan menjadi faktor utama yang mendorong deflasi tersebut. Kondisi ini menunjukkan tekanan harga kebutuhan pokok mulai mereda setelah sebelumnya mengalami kenaikan pada beberapa bulan terakhir. Meski terjadi deflasi bulanan, inflasi tahunan Sumatera…