Puncak Musim Panen Kopi Berakhir
Puncak musim panen kopi di sejumlah daerah penghasil utama Indonesia mulai berakhir pada akhir Juli 2026. Memasuki penghujung panen, aktivitas petani beralih dari memetik buah menjadi merawat tanaman. Hasil panen yang diperoleh pada periode akhir memang lebih sedikit dibanding awal musim. Namun, pendapatan tersebut tetap membantu memenuhi kebutuhan keluarga dan biaya perawatan kebun.
Di Kabupaten Kaur, Bengkulu, petani memanfaatkan sisa hasil panen untuk membeli pupuk, membersihkan lahan, dan memangkas tanaman. Perawatan dilakukan agar produktivitas kebun tetap terjaga menjelang musim panen berikutnya. Petani menyadari kualitas perawatan setelah panen sangat menentukan hasil produksi tahun depan. Karena itu, sebagian pendapatan sengaja disisihkan sebagai modal pemeliharaan kebun.
Sementara itu, sejumlah sentra produksi kopi menghadapi penurunan hasil panen akibat pengaruh cuaca. Di Temanggung, Jawa Tengah, produksi kopi robusta diperkirakan turun sekitar 40 hingga 60 persen. Penurunan dipicu curah hujan tinggi saat masa pembungaan pada tahun sebelumnya. Kondisi tersebut menyebabkan banyak bunga kopi berguguran sebelum berkembang menjadi buah.
Meski produksi menurun di beberapa daerah, harga kopi yang relatif tinggi membantu menjaga pendapatan petani. Pemerintah daerah berharap tren harga tetap bertahan hingga seluruh musim panen berakhir. Setelah panen selesai, petani akan fokus memperbaiki kondisi tanaman menghadapi musim berbunga berikutnya. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas kebun ketika musim panen kopi kembali dimulai pada tahun mendatang.
