UMKM Teriak, Bisnis Makin Susah Gara-Gara Ulah Presiden
Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah mengeluhkan kondisi bisnis yang semakin berat akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kenaikan kurs membuat harga bahan baku impor meningkat dan biaya produksi ikut membengkak. Dampak tersebut paling dirasakan pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri. Kondisi itu memicu kekhawatiran terhadap keberlangsungan usaha di berbagai sektor.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengakui pelemahan rupiah mulai memberikan tekanan kepada sebagian pelaku usaha. Menurutnya, dampak paling besar dirasakan UMKM yang menggunakan bahan baku impor dalam proses produksi. Kenaikan biaya tersebut sulit dihindari ketika nilai tukar terus berfluktuasi. Namun, pemerintah menilai tidak semua sektor UMKM mengalami tekanan yang sama.
Maman menjelaskan pemerintah terus memantau perkembangan kondisi ekonomi dan dampaknya terhadap pelaku usaha. Berbagai langkah disiapkan untuk menjaga daya saing UMKM di tengah tekanan ekonomi global. Pemerintah juga mendorong penggunaan bahan baku lokal agar ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi. Selain itu, pelaku usaha diharapkan meningkatkan efisiensi dan memperluas pasar produk dalam negeri.
Meski menghadapi tantangan, pemerintah menegaskan komitmennya memperkuat sektor UMKM melalui berbagai program pemberdayaan. Dukungan tersebut meliputi akses pembiayaan, perlindungan usaha, hingga perluasan pasar produk lokal. Pemerintah berharap kebijakan tersebut membantu pelaku usaha bertahan di tengah gejolak ekonomi. UMKM tetap dipandang sebagai tulang punggung perekonomian nasional dan penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia.
