Tiga Sekolah Disegel, Pemkab Bima Minta Massa Tak Anarkistis
Pemerintah Kabupaten Bima meminta masyarakat tidak bertindak anarkistis menyusul penyegelan tiga sekolah di Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Penyegelan dilakukan oleh sekelompok warga yang menuntut penyelesaian persoalan pemekaran desa. Akibat aksi tersebut, kegiatan belajar mengajar di sekolah terdampak sempat terganggu. Pemerintah daerah mengimbau semua pihak mengedepankan dialog untuk menyelesaikan persoalan.
Tiga sekolah yang terdampak meliputi SDN 1 Sandue, SMPN 4 Sanggar, dan SMAN 1 Sanggar. Penyegelan dilakukan dengan memasang bambu dan berbagai material pada akses masuk sekolah. Aksi itu merupakan bentuk protes warga terhadap belum tuntasnya pembentukan Desa Oi Saro. Masyarakat berharap pemerintah segera memberikan kepastian terkait tuntutan tersebut.
Sekretaris Daerah Kabupaten Bima, Feri Sofiyan, meminta massa menghentikan tindakan yang merugikan dunia pendidikan. Menurutnya, penyampaian aspirasi merupakan hak masyarakat selama dilakukan secara tertib dan damai. Pemerintah daerah menilai aktivitas belajar siswa tidak boleh menjadi korban dalam penyelesaian persoalan administratif. Pemkab juga berkomitmen memfasilitasi dialog bersama seluruh pihak terkait.
Pemerintah Kabupaten Bima terus berkoordinasi dengan aparat keamanan dan tokoh masyarakat untuk menjaga situasi tetap kondusif. Langkah tersebut dilakukan agar kegiatan belajar mengajar dapat segera kembali berjalan normal. Pemkab berharap masyarakat mengedepankan musyawarah dalam menyampaikan aspirasi kepada pemerintah. Hingga kini, proses komunikasi antara pemerintah daerah dan perwakilan warga masih terus berlangsung untuk mencari solusi terbaik.
