Senam Kreasi Penthul Tembem Gunungkidul cetak rekor MURI hingga dunia

Kabupaten Gunungkidul kembali menorehkan prestasi melalui Senam Kreasi Penthul Tembem yang mengangkat budaya lokal. Kegiatan tersebut sukses memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia atau MURI sekaligus rekor dunia. Acara digelar di kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Jumat, 10 Juli 2026. Sebanyak 1.588 peserta perempuan ambil bagian dalam senam massal tersebut. Pencapaian itu menjadi yang terbanyak di dunia untuk kategori senam kreasi dengan peserta perempuan.

Senior Representative MURI, Ari Andriani, menyatakan rekor tersebut merupakan kategori baru. Menurutnya, Senam Kreasi Penthul Tembem memadukan olahraga dengan kearifan lokal secara unik. MURI menilai pencapaian berdasarkan jumlah peserta, bukan kualitas gerakan senam. Keunikan budaya yang diangkat membuat rekor tersebut diakui hingga tingkat dunia. Capaian itu juga menjadi kebanggaan baru bagi masyarakat Gunungkidul.

Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengembangan sport tourism daerah. Peserta berasal dari 18 kapanewon di Gunungkidul serta berbagai komunitas masyarakat. Mereka terdiri atas anggota Perwosi, IGTKI, Himpaudi, Polwan, hingga relawan. Senam menggunakan topeng Penthul berwarna putih dan Tembem berwarna hitam. Karakter tersebut melambangkan keceriaan, kesederhanaan, dan semangat kebersamaan masyarakat Gunungkidul.

Selain memecahkan rekor, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menerima Surat Pencatatan Ciptaan Topeng Penthul Tembem dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM DIY. Perlindungan hak cipta tersebut memperkuat status Penthul Tembem sebagai karya budaya asli daerah. Pemerintah berharap keberhasilan ini semakin memperkenalkan budaya Gunungkidul ke tingkat internasional. Inovasi yang memadukan olahraga, seni, dan pariwisata dinilai mampu meningkatkan daya tarik wisata daerah. Prestasi tersebut juga membuktikan budaya lokal dapat mendunia melalui kreativitas dan kolaborasi masyarakat.

Similar Posts

  • Makna Lukisan Punakawan Butet Kartaredjasa yang Dikasih pada Paus Leo XIV

    Seniman dan budayawan Butet Kartaredjasa menarik perhatian publik setelah menyerahkan lukisan bertema Punakawan kepada Paus Leo XIV di Vatikan. Karya tersebut bukan sekadar lukisan budaya Jawa biasa. Lukisan itu merupakan interpretasi unik dari kisah Jalan Salib yang dipadukan dengan filosofi tokoh-tokoh Punakawan. Dalam karya tersebut, Butet menggunakan empat tokoh Punakawan, yakni Semar, Gareng, Petruk, dan…

  • Tinggalkan Citra Kalem, Raisa Menjelma Srikandi di Pagelaran Sabang Merauke

    Raisa Andriana bersiap menunjukkan sisi berbeda melalui keterlibatannya dalam Pagelaran Sabang Merauke 2026. Penyanyi yang identik dengan penampilan elegan tersebut dipercaya memerankan tokoh Srikandi. Peran ini sekaligus menjadi debut Raisa dalam sebuah pertunjukan musikal berskala besar. Ia harus memadukan kemampuan bernyanyi, akting, dan koreografi dalam satu panggung. Pagelaran Sabang Merauke 2026 mengangkat tema “Hikayat Srikandi…

  • Teater Koma Pentaskan Kembali Rumah Sakit Jiwa dengan Interpretasi Baru yang Relevan untuk Era Modern

    Teater Koma kembali menghadirkan lakon legendaris Rumah Sakit Jiwa dengan pendekatan baru yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat saat ini. Pementasan tersebut menjadi produksi ke-237 Teater Koma dan menandai kembalinya naskah karya N. Riantiarno ke panggung setelah 35 tahun sejak pertama kali dipentaskan pada 1991. Pertunjukan dijadwalkan berlangsung pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 di…

  • Djakarta International Theater Platform Digelar Lagi, Ini Agendanya

    Djakarta International Theater Platform (DITP) kembali digelar sebagai ruang pertemuan bagi pelaku seni pertunjukan dari Indonesia dan berbagai negara. Ajang ini menjadi wadah untuk memperkuat kolaborasi, berbagi pengetahuan, serta memperluas jejaring di dunia teater. Penyelenggara berharap DITP mampu mendorong lahirnya gagasan baru yang memperkaya perkembangan seni pertunjukan nasional. Festival ini juga menjadi kesempatan bagi publik…

  • Mengenal Lawang Sakepeng, Tradisi Dayak untuk Menyambut Tamu yang Dipentaskan di Festival Kampung 5

    Tradisi Lawang Sakepeng menjadi salah satu pertunjukan budaya yang menarik perhatian pengunjung dalam Festival Kampung 5. Kesenian khas Suku Dayak Ngaju dari Kalimantan Tengah tersebut ditampilkan sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus pengenalan tradisi kepada masyarakat luas. Lawang Sakepeng dikenal sebagai tradisi penyambutan tamu yang memadukan unsur seni, adat, dan bela diri. Dalam bahasa Dayak Ngaju,…

  • Aksara Nusantara Jadi Sistem Tulisan Baru Indonesia, Begini Konsep dan Tujuannya

    Indonesia kini memperkenalkan Aksara Nusantara sebagai sistem tulisan nasional baru. Gagasan tersebut dikembangkan untuk memperkuat identitas visual dan kebudayaan Indonesia. Menteri Kebudayaan menginstruksikan sosialisasi Aksara Nusantara secara luas pada 12 Agustus 2026. Proyek ini bermula dari arahan Menteri Kebudayaan di Keraton Majapahit Jakarta pada Januari 2025. Tim kemudian melibatkan ahli aksara, akademisi, pegiat budaya, dan…