Dana Asing Cabut Rp 3,19 Triliun Saat IHSG Naik Tipis

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat tipis di tengah tekanan aksi jual investor asing. Fenomena ini menunjukkan bahwa penguatan indeks belum sepenuhnya didukung oleh arus modal luar negeri. Data perdagangan menunjukkan investor asing membukukan jual bersih (net sell) sebesar Rp3,19 triliun. Meski demikian, IHSG tetap mampu bertahan di zona hijau berkat dukungan investor domestik dan penguatan sejumlah saham berkapitalisasi besar.

Penguatan IHSG terjadi di tengah sentimen yang beragam. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan suku bunga global, kondisi ekonomi Amerika Serikat, serta dinamika geopolitik yang memengaruhi pergerakan modal internasional. Aksi jual asing saat indeks menguat juga pernah terjadi pada sejumlah periode sebelumnya. Analis menilai investor asing cenderung melakukan profit taking pada saham-saham unggulan. Langkah tersebut dilakukan setelah beberapa saham mengalami kenaikan harga dalam beberapa pekan terakhir.

Sektor perbankan masih menjadi salah satu yang paling banyak diperhatikan investor asing. Saham-saham bank besar kerap menjadi sasaran jual maupun beli karena memiliki likuiditas tinggi dan bobot besar terhadap pergerakan indeks. Di sisi lain, investor domestik terlihat aktif menyerap saham yang dilepas asing. Kondisi tersebut membantu menjaga stabilitas pasar dan mencegah tekanan yang lebih besar terhadap IHSG.

Pengamat pasar modal menilai ketahanan IHSG di tengah keluarnya dana asing menjadi sinyal positif. Hal itu menunjukkan peran investor domestik semakin penting dalam menopang pasar saham Indonesia. Meski demikian, arus dana asing tetap menjadi indikator yang diperhatikan pelaku pasar. Masuk atau keluarnya modal asing dapat memengaruhi likuiditas dan sentimen investasi dalam jangka pendek.

Investor disarankan tetap mencermati perkembangan ekonomi global dan kebijakan moneter. Faktor-faktor tersebut diperkirakan masih menjadi penentu utama arah pasar saham dalam beberapa waktu ke depan.

Similar Posts

  • Ekonom perkirakan inflasi bulanan Juli melambat ke 0,03 persen

    Sejumlah ekonom memperkirakan inflasi Indonesia secara bulanan pada Juli 2026 akan melambat menjadi sekitar 0,03 persen. Proyeksi tersebut menunjukkan tekanan harga diperkirakan lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Pada Juni 2026, tekanan inflasi terutama berasal dari komoditas pangan dan kenaikan harga bahan bakar. Pemerintah sebelumnya memperkirakan tekanan tersebut dapat berkurang setelah harga sejumlah komoditas mulai mereda….

  • Lewat Pemberdayaan BRI, Suhita Lebah Indonesia Kembangkan Usaha Madu

    PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus memperkuat pemberdayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah melalui berbagai program pendampingan. Salah satu penerima manfaat adalah Suhita Lebah Indonesia, usaha budidaya lebah dan produksi madu yang berhasil memperluas bisnisnya berkat dukungan BRI. Pendampingan tersebut tidak hanya mencakup akses pembiayaan, tetapi juga pengembangan kapasitas usaha dan perluasan pasar….

  • BP Sabang Didorong Jadi Hub Logistik dan Perdagangan Internasional

    Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS) didorong menjadi pusat logistik dan perdagangan internasional guna memperkuat peran Indonesia di jalur pelayaran global. Dorongan tersebut disampaikan Anggota Komisi VI DPR RI Doni Akbar yang menilai Sabang memiliki posisi strategis di pintu masuk Selat Malaka dan Samudra Hindia. Menurutnya, keunggulan geografis tersebut harus dioptimalkan…

  • Bank Mandiri (BMRI) Salurkan KUR Rp21,41 Triliun ke 162.000 UMKM hingga Semester I/2026

    PT Bank Mandiri Tbk menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp21,41 triliun hingga akhir Semester I 2026. Penyaluran tersebut menjangkau lebih dari 162.000 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai daerah. Capaian ini menunjukkan komitmen Bank Mandiri dalam memperluas akses pembiayaan bagi sektor produktif. Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengatakan penyaluran KUR…

  • UMKM Teriak, Bisnis Makin Susah Gara-Gara Ulah Presiden

    Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah mengeluhkan kondisi bisnis yang semakin berat akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kenaikan kurs membuat harga bahan baku impor meningkat dan biaya produksi ikut membengkak. Dampak tersebut paling dirasakan pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri. Kondisi itu memicu kekhawatiran terhadap keberlangsungan usaha…

  • Kena PHK, Sebagian Buruh Tekstil Beralih Buka Bisnis Konveksi

    Gelombang pemutusan hubungan kerja atau PHK di industri tekstil mendorong sebagian pekerja mencari sumber penghasilan baru. Salah satu pilihan yang banyak ditempuh adalah membuka usaha konveksi skala kecil dengan memanfaatkan keterampilan menjahit yang telah dimiliki. Langkah tersebut dinilai menjadi cara bertahan di tengah lesunya industri padat karya. Sejumlah mantan buruh memulai usaha dari rumah dengan…