Tambak Modern Udang Vaname Hadirkan Solusi Budi Daya Efisien
Penerapan teknologi modern mulai menjadi solusi untuk meningkatkan efisiensi budi daya udang vaname di Indonesia. Sistem tersebut memungkinkan pembudidaya mengendalikan kualitas air dan lingkungan tambak secara lebih terukur. Salah satu penerapannya terlihat pada tambak milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di Kota Semarang. Tambak tersebut berada di Loka Perbenihan dan Budidaya Ikan Tugu, Kawasan Industri Wijayakusuma.
Tambak seluas 1.561 meter persegi tersebut menerapkan teknologi closed system atau sistem tertutup. Sistem ini dirancang untuk meminimalkan penggunaan air dari luar selama proses budi daya. Air terlebih dahulu mendapatkan perlakuan menggunakan dolomit, kaporit, dan aerasi sebelum digunakan. Teknologi tersebut membantu menjaga kualitas lingkungan sekaligus mendukung pertumbuhan udang vaname.
Pada panen 6 Juli 2026, udang dibudidayakan selama sekitar 82 hari. Produksinya ditargetkan mencapai 1,3 ton dengan ukuran sekitar 60 ekor per kilogram. Hasil panen dipasarkan untuk kebutuhan lokal dengan harga sekitar Rp60.000 per kilogram. Tambak ini kemudian menjadi model percontohan revitalisasi tambak modern di Pantura Jawa Tengah.
Model budi daya modern juga dikembangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui BUBK Kebumen. Pada Mei 2026, kawasan tersebut mencatat panen parsial sebanyak 46 ton dari 32 petakan. KKP menyebut sistem budi daya telah menggunakan standar pengelolaan lingkungan, termasuk Instalasi Pengolahan Air Limbah. Pendekatan tersebut diarahkan untuk membangun industri udang yang modern dan berkelanjutan.
Tambak modern menawarkan peluang peningkatan produktivitas tanpa mengabaikan efisiensi penggunaan sumber daya. Pengelolaan air yang terkontrol juga dapat membantu mengurangi risiko gangguan lingkungan. Namun, penerapannya tetap membutuhkan investasi teknologi, tenaga terampil, dan pengawasan berkala. Pengembangan sistem tersebut diharapkan meningkatkan daya saing udang vaname Indonesia di pasar domestik maupun ekspor.
