Ratusan Pegiat Seni Ramaikan Kirab Banteng 1 Suro Empu Supo di Kota Batu
Ratusan pegiat seni dan masyarakat memadati kawasan Pasar Wisata Songgoriti, Kota Batu, Jawa Timur, dalam Kirab Banteng 1 Suro Empu Supo. Tradisi budaya tersebut kembali digelar pada Senin (22/6) dan menjadi salah satu agenda budaya tahunan yang dinantikan masyarakat.
Kirab Banteng 1 Suro Empu Supo tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-18. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang ekspresi seni tradisional, tetapi juga sarana memperkuat identitas budaya Kota Batu.
Peserta kirab berasal dari berbagai komunitas seni, paguyuban budaya, hingga kelompok bantengan dari sejumlah daerah di Jawa Timur. Sejumlah peserta dari Mojokerto dan Blitar turut ambil bagian dalam perhelatan budaya tersebut.
Wali Kota Batu, Nurochman, mengapresiasi konsistensi para seniman dan pegiat budaya yang terus menjaga keberlangsungan tradisi tersebut. Menurutnya, Kirab Banteng 1 Suro Empu Supo membuktikan bahwa budaya lokal tetap hidup dan berkembang meski menghadapi arus modernisasi.
Ia menegaskan bahwa Kota Batu tidak hanya memiliki potensi wisata alam. Kota ini juga menyimpan kekayaan seni dan budaya yang perlu dijaga serta diwariskan kepada generasi mendatang.
Kirab tersebut turut dihadiri Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto, perwakilan Dinas Pariwisata, Dewan Kesenian Kota Batu, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta berbagai komunitas budaya. Kehadiran berbagai elemen itu menunjukkan dukungan luas terhadap pelestarian tradisi lokal.
Selain menjadi peringatan datangnya 1 Suro, kegiatan ini juga menjadi ajang mempererat kebersamaan antarpegiat seni. Semangat gotong royong yang ditunjukkan para peserta dinilai menjadi modal penting dalam menjaga keberlangsungan budaya daerah.
Berdasarkan laporan Pemerintah Kota Batu, kirab tahun ini juga menarik perhatian ribuan warga dan wisatawan. Sekitar 50 kontingen bantengan serta kelompok seni budaya ikut memeriahkan jalannya acara sepanjang kawasan Songgoriti.
Pemerintah Kota Batu berharap Kirab Banteng 1 Suro Empu Supo dapat terus berkembang sebagai ruang pelestarian budaya sekaligus sarana edukasi bagi generasi muda. Tradisi yang telah bertahan hampir dua dekade itu diharapkan semakin memperkuat karakter Kota Batu sebagai daerah yang berbudaya dan berakar pada kearifan lokal.
