Pameran “As All Gather in Commons” Hadirkan 42 Karya dari Lima Perupa Perempuan

Pameran seni “As All Gather in Commons” menghadirkan 42 karya dari lima perupa perempuan. Pameran tersebut berlangsung di D Gallerie, Barito, Jakarta Selatan.

Kelima perupa yang terlibat adalah Dian Utami, Ella Wijt, Meliantha Muliawan, Sekarputi Sidhiawati, dan Theresia Agustina Sitompul. Karya mereka menghadirkan beragam perspektif mengenai kehidupan perempuan. Narasi yang diangkat mencakup persoalan ingatan hingga pengalaman dalam ruang domestik.

Salah satu karya yang menjadi perhatian pengunjung adalah “Koor Kaum Wanita” karya Ella Wijt. Karya tersebut menjadi bagian dari rangkaian visual yang mengajak pengunjung melihat pengalaman perempuan melalui sudut pandang para seniman. Pameran ini tidak hanya menampilkan objek visual, tetapi juga menawarkan ruang untuk memahami beragam pengalaman perempuan.

Pameran tersebut berlangsung hingga 13 September 2026 dan terbuka bagi masyarakat. Kehadiran lima perupa dengan latar serta pendekatan karya berbeda memperkaya narasi yang ditawarkan. Pengunjung dapat melihat bagaimana pengalaman personal, ingatan, dan ruang keseharian diterjemahkan menjadi karya seni.

Penyelenggaraan pameran ini menunjukkan bagaimana seni dapat menjadi medium untuk menyampaikan pengalaman dan perspektif perempuan. Setiap karya memberikan sudut pandang berbeda mengenai kehidupan yang dekat dengan keseharian. Melalui 42 karya tersebut, pengunjung diajak menikmati seni sekaligus membaca berbagai narasi yang dibangun para perupa. Pameran “As All Gather in Commons” pun menjadi ruang pertemuan antara karya, seniman, dan publik.

Similar Posts

  • Ilustrator Liunic Jadi Juri Generasi Ceria Warnai Indonesia

    Ilustrator sekaligus kreator visual Liunic dipercaya menjadi salah satu juri dalam ajang Generasi Ceria Warnai Indonesia. Keterlibatannya diharapkan mampu memberikan inspirasi kepada peserta untuk berani mengekspresikan kreativitas melalui karya seni. Program tersebut menjadi wadah bagi anak-anak dan generasi muda mengembangkan imajinasi sekaligus meningkatkan kemampuan menggambar. Kehadiran Liunic juga dinilai dapat menambah semangat peserta karena karya-karyanya…

  • Reog Ponorogo Terus Berjaya di Pundak Generasi Muda

    Reog Ponorogo terus menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu warisan budaya Indonesia berkat peran aktif generasi muda. Kesenian tradisional asal Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, itu tidak hanya dipentaskan dalam berbagai acara daerah, tetapi juga tampil di tingkat nasional hingga internasional. Setelah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO pada Desember 2024, semangat pelestarian Reog semakin menguat…

  • Lestari Moerdijat Dorong Tari Lengger Banyumas Jadi Warisan Dunia UNESCO

    Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong Tari Lengger Banyumas untuk mendapatkan pengakuan sebagai warisan budaya dunia dari UNESCO. Menurutnya, kesenian tradisional yang telah hidup dan berkembang di masyarakat Banyumas selama berabad-abad itu memiliki nilai budaya yang tinggi serta layak mendapat perlindungan di tingkat internasional. Lestari menilai Tari Lengger Banyumas bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi…

  • 8 Area Imersif Purwacarita Borobudur, Cara Seru Menjelajahi Sejarah Candi

    Sejarah Candi Borobudur kini dapat dipelajari melalui pengalaman imersif di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta Pusat. Pameran bertajuk Purwacarita Borobudur berlangsung hingga Desember 2026. Pameran ini menghadirkan delapan area dengan pengalaman berbeda. Teknologi digital dan pendekatan Ethical AI digunakan untuk membuat sejarah lebih interaktif bagi pengunjung. Area pertama adalah Sapa Borobudur yang mengenalkan lanskap serta latar…

  • Dari Kayu Hanyut hingga Patung Semar, Seniman Kulon Progo Sulap “Sampah” Jadi Karya Seni

    Tumpukan kayu hanyut yang terbawa arus sungai dan ombak laut kerap dianggap sebagai limbah yang tidak bernilai. Namun, di tangan seniman asal Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, material tersebut berubah menjadi karya seni bernilai tinggi. Beragam patung berbentuk tokoh pewayangan, satwa, hingga figur Semar berhasil diciptakan dari potongan kayu bekas. Kreativitas tersebut tidak hanya…

  • Menafsir Dakwah dalam Goresan Kaligrafi A.D Pirous

    Nama A.D. Pirous memiliki tempat istimewa dalam perkembangan seni rupa Indonesia. Seniman asal Aceh yang bernama lengkap Abdul Djalil Pirous itu dikenal sebagai pelopor kaligrafi Islam modern di Indonesia. Melalui karya-karyanya, Pirous tidak hanya menghadirkan keindahan visual, tetapi juga menjadikan seni sebagai media dakwah yang mengajak masyarakat merenungkan nilai spiritual dan kemanusiaan. Berbeda dengan kaligrafi…