Murid SMP, SMA dan SMK Ikut Simulasi Rapat DPR, Apa yang Dibahas?

Ratusan pelajar tingkat SMP, SMA, dan SMK mengikuti simulasi rapat DPR sebagai bagian dari program pendidikan demokrasi. Kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan proses legislasi dan pengambilan keputusan di parlemen. Para peserta berperan sebagai anggota dewan, pimpinan rapat, hingga perwakilan pemerintah. Mereka menjalani tahapan rapat layaknya sidang resmi di DPR. Simulasi ini diharapkan meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai sistem demokrasi Indonesia.

Dalam simulasi tersebut, peserta membahas berbagai isu yang dekat dengan kehidupan pelajar. Topik diskusi meliputi pendidikan, penggunaan teknologi digital, kesehatan, serta perlindungan anak. Setiap kelompok menyampaikan pandangan, usulan, dan argumentasi sebelum mengambil keputusan bersama. Peserta juga belajar menyusun draf kebijakan dan menyampaikan pendapat secara tertib. Seluruh proses dirancang menyerupai mekanisme rapat kerja dan rapat paripurna DPR RI.

Selain berlatih berdebat, para siswa mempelajari fungsi legislasi, pengawasan, dan anggaran yang dimiliki DPR. Mereka juga dikenalkan dengan proses pembahasan rancangan undang-undang hingga pengambilan keputusan. Simulasi mendorong peserta berpikir kritis terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat. Kegiatan tersebut sekaligus melatih kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan kerja sama antarpeserta. Pengalaman ini memberikan gambaran nyata mengenai tugas seorang anggota parlemen.

Program edukasi semacam ini telah rutin diselenggarakan DPR RI melalui berbagai kegiatan keparlemenan. Salah satunya adalah Program Parlemen Remaja yang berlangsung sejak 2008. Program tersebut memberikan kesempatan kepada pelajar untuk merasakan langsung dinamika kerja parlemen. DPR berharap kegiatan ini dapat meningkatkan literasi politik dan menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap isu publik. Melalui simulasi tersebut, peserta diharapkan menjadi warga negara yang aktif, kritis, dan bertanggung jawab dalam kehidupan demokrasi.

Similar Posts

  • PWNU Jateng dan Konjen Tiongkok Jalin Kerja Sama Pendidikan, Gus Rozin Ikuti Jejak Gus Dur

    Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah menjalin kerja sama pendidikan dan kebudayaan dengan Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok. Pertemuan berlangsung di Kantor PWNU Jawa Tengah, Semarang, pada Kamis, 23 Juli 2026. Kedua pihak membahas penguatan hubungan bilateral melalui sektor pendidikan, budaya, serta nilai perdamaian dan kemanusiaan. Kerja sama tersebut diharapkan membuka peluang lebih luas bagi…

  • Kamboja Targetkan Kerja Sama Pendidikan Tinggi dengan Indonesia, Fokus Double Degree

    Pemerintah Kamboja menargetkan penguatan kerja sama pendidikan tinggi dengan Indonesia melalui pengembangan program double degree atau gelar ganda. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan bilateral sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di kedua negara. Program tersebut memungkinkan mahasiswa memperoleh gelar akademik dari dua perguruan tinggi dalam satu masa studi. Rencana kerja sama tersebut…

  • STIK Masih Bahas Rencana Pengembangan Menjadi Universitas Kepolisian

    Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) masih membahas rencana pengembangan kelembagaan menjadi Universitas Kepolisian. Wacana tersebut muncul sebagai bagian dari upaya memperkuat kualitas pendidikan, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kepolisian yang semakin menghadapi tantangan kompleks di era modern. Transformasi menjadi universitas dinilai dapat memberikan ruang yang lebih luas bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan…

  • Faculty of Humanities BINUS University Siapkan Talenta Global di Era AI, Menjawab Kekhawatiran Orang Tua akan Masa Depan Karier Anak

    Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat memunculkan berbagai kekhawatiran di kalangan orang tua terkait masa depan karier anak-anak mereka. Menjawab tantangan tersebut, Faculty of Humanities BINUS University terus mengembangkan kurikulum yang dirancang untuk mencetak talenta global yang mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi tanpa kehilangan keunggulan manusia yang sulit digantikan oleh AI. Faculty of…

  • AI Tidak Menggantikan Guru, tetapi Menguji Guru

    Kehadiran kecerdasan buatan atau AI membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan dan proses pembelajaran. Teknologi generatif kini dapat membantu membuat rangkuman, menjelaskan materi, hingga menyusun latihan pembelajaran. Namun, perkembangan tersebut tidak otomatis membuat peran guru menjadi tidak diperlukan. Justru, AI menguji kemampuan pendidik untuk beradaptasi dan memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab. UNESCO menilai AI generatif…

  • Wajib Belajar 13 Tahun Akan Diatur dalam Draf RUU Sisdiknas

    Program wajib belajar 13 tahun akan mendapat penguatan melalui Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas). Ketentuan tersebut dimasukkan dalam draf revisi sebagai bagian dari upaya memperkuat fondasi pendidikan nasional sejak usia dini. Skema wajib belajar mencakup satu tahun pendidikan prasekolah, sembilan tahun pendidikan dasar, dan tiga tahun pendidikan menengah. Komisi X DPR RI menilai…