Ramalan Harga Logam Dasar Bank Dunia Saat Tekanan Pasokan Tembaga, Nikel Cs Memuncak

Bank Dunia memperkirakan harga logam dasar global akan tetap berada dalam tren menguat sepanjang 2026 di tengah meningkatnya tekanan pasokan dan permintaan yang masih solid dari sektor energi terbarukan, kendaraan listrik, hingga pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI). Dalam laporan Commodity Markets Outlook, Bank Dunia menyebut kondisi pasar logam semakin ketat akibat gangguan pasokan di sejumlah negara produsen.

Indeks harga logam dan mineral global diproyeksikan naik sekitar 17 persen pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut didorong oleh permintaan yang terus tumbuh, biaya produksi yang tinggi, serta terbatasnya pasokan untuk sejumlah logam industri utama.

Tembaga menjadi salah satu komoditas yang diperkirakan menghadapi tekanan pasokan paling besar. Bank Dunia memperkirakan harga tembaga akan mencapai level tertinggi karena gangguan produksi dan meningkatnya kebutuhan sektor listrik serta pembangunan infrastruktur digital. Kondisi tersebut membuat pasar tembaga diperkirakan tetap ketat dalam beberapa tahun ke depan.

Selain tembaga, harga nikel juga diproyeksikan mengalami kenaikan signifikan. Bank Dunia memperkirakan harga nikel naik sekitar 12 persen pada 2026 dan bertambah sekitar 3 persen pada 2027. Meskipun Indonesia terus menambah kapasitas pengolahan nikel, keterbatasan pasokan bijih dan potensi gangguan rantai pasok diperkirakan akan menjaga pasar tetap berada dalam kondisi ketat.

Aluminium dan timah juga diperkirakan mencatat kenaikan harga yang kuat. Bank Dunia bahkan memperkirakan aluminium, tembaga, dan timah dapat mencapai rekor harga tahunan baru pada 2026. Tekanan pasokan dari kawasan Timur Tengah, kenaikan biaya energi, serta meningkatnya kebutuhan industri teknologi menjadi faktor utama yang menopang harga.

Meski demikian, prospek harga logam tidak sepenuhnya bebas risiko. Bank Dunia mengingatkan bahwa perlambatan ekonomi global, terutama di China yang menyerap hampir separuh konsumsi logam dunia, dapat menekan pertumbuhan permintaan. Namun untuk saat ini, risiko kenaikan harga dinilai masih lebih dominan dibandingkan risiko penurunan.

Di sisi lain, pasar bijih besi diperkirakan bergerak berbeda dibandingkan logam dasar lainnya. Bank Dunia memproyeksikan harga bijih besi justru melemah pada 2026 dan 2027 karena pasokan global masih lebih besar dibandingkan permintaan.

Bagi Indonesia, tren kenaikan harga logam dasar berpotensi menjadi sentimen positif mengingat Indonesia sebagai salah satu produsen utama nikel dunia. Namun demikian, pelaku industri dan investor tetap perlu mencermati perkembangan ekonomi global, kebijakan perdagangan internasional, serta potensi gangguan pasokan yang dapat memengaruhi arah harga komoditas dalam jangka menengah.

Similar Posts

  • Ekspor ke Australia, Pupuk Indonesia Pastikan Pasokan ke Petani Tak Terganggu

    Pupuk Indonesia memastikan bahwa kegiatan ekspor pupuk ke Australia tidak akan mengganggu pasokan untuk petani di dalam negeri.Perusahaan menegaskan bahwa kebutuhan domestik tetap menjadi prioritas utama dalam distribusi pupuk nasional.Kebijakan ekspor dilakukan secara terukur agar keseimbangan pasokan tetap terjaga. Pihak perusahaan menyampaikan bahwa stok pupuk bersubsidi untuk musim tanam tetap aman.Distribusi ke berbagai daerah sentra…

  • Israel Serang Lebanon, Bitcoin Langsung Tertekan

    Harga Bitcoin kembali mengalami tekanan setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Sentimen pasar memburuk menyusul serangan militer Israel ke sejumlah wilayah di Lebanon dalam beberapa hari terakhir. Aset kripto terbesar di dunia tersebut sempat turun lebih dari 2 persen. Bitcoin bahkan bergerak mendekati level US$63.000 setelah kabar serangan kembali mencuat. Analis menilai konflik geopolitik…

  • UMKM Teriak, Bisnis Makin Susah Gara-Gara Ulah Presiden

    Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah mengeluhkan kondisi bisnis yang semakin berat akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kenaikan kurs membuat harga bahan baku impor meningkat dan biaya produksi ikut membengkak. Dampak tersebut paling dirasakan pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri. Kondisi itu memicu kekhawatiran terhadap keberlangsungan usaha…

  • Pemerintah Bebaskan Bea Masuk Suku Cadang Pesawat & LPG

    Pemerintah resmi membebaskan bea masuk impor suku cadang pesawat dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk industri petrokimia. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari Paket Stimulus Ekonomi Semester II 2026. Insentif berupa tarif bea masuk nol persen diharapkan mampu menekan biaya produksi pelaku usaha. Pemerintah juga ingin menjaga daya saing industri nasional di tengah tekanan ekonomi global….

  • Malik Nuh Jaidi Dorong Industri Tembakau Berkualitas Lewat Kemitraan Strategis

    Malik Nuh Jaidi mendorong penguatan industri tembakau berkualitas melalui inovasi dan kemitraan strategis. Langkah tersebut dijalankan melalui PT Jasmira Sultan Tobacco yang dipimpinnya sebagai CEO. Perusahaan menghadapi perubahan preferensi konsumen, persaingan global, serta tuntutan peningkatan kualitas produk. Malik menilai pertumbuhan perusahaan tidak hanya bergantung pada peningkatan bisnis. Tata kelola profesional dan pengembangan sumber daya manusia…

  • Ramai Pemain Baru, Persaingan Unit Usaha Syariah (UUS) Multifinace Kian Dinamis

    Industri pembiayaan syariah di Indonesia semakin menunjukkan pertumbuhan yang positif seiring bertambahnya jumlah pelaku usaha yang masuk ke segmen tersebut. Kehadiran sejumlah pemain baru membuat persaingan Unit Usaha Syariah (UUS) perusahaan multifinance kian dinamis, sekaligus memperluas pilihan layanan pembiayaan berbasis syariah bagi masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, tren pembiayaan syariah terus mengalami peningkatan. Kondisi ini…